Oleh: Valens Daki Soo
NNB Indonesia – Tulisan terbaru Steph Tupeng Witin (STW) yang dimuat media daring korantimor.com pada Sabtu, 20 Desember 2025, memuat begitu banyak serangan ad hominem atau serangan pribadi terhadap saya, termasuk menyentuh soal fisik dan hal-hal yang tidak relevan. Menanggapi tulisan tersebut, sekaligus sebagai catatan pamungkas terhadap STW, saya merasa perlu menyampaikan klarifikasi berikut ini.
Pertama, pada awalnya saya bersikap netral, meskipun mulai ingin tahu karena tidak memahami secara utuh, ketika mendengar informasi tentang isu yang disebut sebagai “mafia Waduk Lambo”. Informasi itu saya peroleh melalui sambungan telepon dari Primus Dorimulu, adik kandung Bupati Nagekeo saat itu, dr Don. Ia menyampaikan bahwa seorang wartawan bernama Patrianus atau Patrick Meo Djawa disebut menjadi target ancaman atau intimidasi oleh sekelompok orang.
Kedua, setelah menerima informasi tersebut dan memperoleh nomor kontak Patrick Meo Djawa, saya segera menghubunginya. Kami bertemu di sebuah kafe dan bakery di Mbay. Dalam pertemuan itu, ia banyak bercerita dan saya lebih banyak mendengar. Ketika ia mengaku mendapat intimidasi bahkan ancaman pembunuhan, saya menyatakan kesiapan memberikan perlindungan. Dalam benak saya, sudah tergambar pihak-pihak yang dapat dihubungi jika situasinya benar-benar membahayakan, termasuk beberapa pejabat aparat keamanan yang memang saya kenal.
Ketiga, sejak pertemuan itu, saya cukup sering berinteraksi dengan Patrick Meo Djawa dan rekan-rekannya. Saya mempersilakan mereka melanjutkan kritik dan serangan jika memang benar terdapat praktik mafia dalam proyek Waduk Lambo. Bagi saya, yang terpenting adalah pembangunan waduk berjalan baik dan manfaatnya kelak dirasakan masyarakat.
Keempat, saya tidak memiliki kepentingan pribadi apa pun dalam proyek Waduk Lambo. Saya bukan subkontraktor, bukan pemasok material, dan bukan pelaksana pekerjaan. Saya memiliki usaha dan bisnis sendiri di Jakarta yang tidak berkaitan dengan konstruksi. Informasi tersebut dapat ditelusuri secara terbuka melalui laman resmi PT Veritas Dharma Satya. Karena itu, tudingan STW yang mengaitkan saya dengan kepentingan proyek tersebut jelas keliru dan salah sasaran.
Kelima, keberadaan saya yang cukup lama di Flores berkaitan dengan urusan keluarga, khususnya mendampingi orang tua saya yang sakit-sakitan. Ayah saya berada dalam kondisi kritis selama beberapa tahun terakhir. Doa saya sederhana, agar beliau berpulang saat saya berada di sisinya. Tuhan mengabulkan doa itu. Ayah saya wafat pada 19 Maret 2025 di Puskesmas Nangaroro, setelah memberikan berkat tanda salib di dahi saya dalam kondisi napasnya yang tersengal di balik masker oksigen.
Oleh karena itu, tudingan STW bahwa saya berada lama di Flores untuk “mengais rezeki” dari Waduk Lambo merupakan fitnah yang keji. Tuhan Maha Mengetahui kebenaran. Perlu juga diketahui bahwa bisnis saya di Jakarta tetap berjalan baik melalui manajemen daring yang saya kendalikan.
Keenam, ketika STW mulai menulis tentang dugaan mafia Waduk Lambo di media daring Flores Pos, saya masih membaca dengan sikap netral. Dalam pandangan saya, jika tudingan itu benar, maka memang harus diungkap dan ditindak, baik melalui media maupun jalur hukum. Prinsip saya tetap sama, yakni memastikan masyarakat terdampak memperoleh ganti rugi yang layak dan manfaat waduk dapat dirasakan bersama.
Ketujuh, persoalan mulai berubah ketika STW menyinggung adanya “orang kuat di Jakarta” sebagai pelindung mafia Waduk Lambo. Saya kemudian menghubunginya melalui pesan WhatsApp untuk meminta kejelasan agar tidak terjadi fitnah. Pesan tersebut tidak dijawab. Saya juga mencoba menelepon beberapa kali, namun tidak diangkat.
Perlu saya sampaikan, selama ini justru saya lebih sering menerima pesan dari STW, termasuk tulisan-tulisan reflektif dan beberapa urusan pribadi.
Kedelapan, saya mulai terusik ketika STW secara terbuka menyebut nama Komjen Pol (Purn) Gories Mere dalam tulisannya. Saya lalu menghubungi beliau di Jakarta. Setelah beberapa waktu, beliau menelepon saya dan meminta penjelasan. Saya menyampaikan informasi yang saya ketahui. Beliau menegaskan bahwa dirinya tidak mengetahui dan tidak terlibat dalam apa yang disebut sebagai mafia Waduk Lambo.
Kesembilan, karena serangan STW semakin masif, saya menyarankan kepada Pak Gories Mere untuk menggelar jumpa pers di Mbay guna meluruskan tudingan tersebut. Beliau menyetujui. Tujuan saya satu, yakni membersihkan nama baik beliau dari tuduhan dan fitnah.
Wartawan yang saya undang hanyalah beberapa yang nomornya saya miliki, selebihnya melalui grup WhatsApp. Terkait pemberian uang transport kepada wartawan yang hadir, hal itu merupakan praktik lazim dalam dunia pers. Tidak ada paksaan, dan faktanya semua wartawan saat itu menerimanya.
Kesepuluh, setelah rilis jumpa pers dimuat di sejumlah media, serangan STW justru semakin keras, baik terhadap Pak Gories Mere maupun terhadap saya. Tanpa klarifikasi dan verifikasi, saya langsung dituduh sebagai bagian dari mafia Waduk Lambo. Padahal, saya sama sekali tidak memiliki urusan apa pun dengan proyek tersebut.
Pada titik ini, saya mulai memahami karakter sebagian pihak yang sebelumnya saya percaya. Informasi yang mereka suplai kepada STW tidak seluruhnya benar. Belakangan, saya justru memperoleh informasi kredibel dari sudut pandang lain mengenai konteks isu yang disebut mafia Waduk Lambo. Menurut saya, hal itulah yang seharusnya diuji dan dibuktikan secara objektif.
Kesebelas, saya hanya sekali menanggapi STW melalui tulisan dan berjanji tidak akan menanggapi lagi tulisan-tulisannya yang sarat bahasa kasar, prasangka, dan fitnah. Bagi saya, perdebatan semacam itu sudah tidak produktif. Dalam istilah daerah kami, itu hanya “papa bheo”, baku tengkar tanpa dasar fakta.
Keduabelas, ketika Redem Kono menyatakan akan menulis tanggapan, saya mempersilakannya. Saya menilai penting adanya sudut pandang akademik. Karena itu, tudingan STW bahwa tulisan Redem adalah tulisan saya merupakan penghinaan terhadap integritas dan intelektualitas Redem sendiri.
Ketigabelas, STW juga tidak perlu menyerang media IndonesiaSatu.co yang saya dirikan pada 1 Desember 2015. Media tersebut adalah ruang ekspresi anak-anak muda dan bukan inti bisnis saya. Meski kecil, media ini ikut menghidupi sejumlah orang. Merendahkannya berarti meremehkan kerja banyak pihak.
Keempatbelas, STW telah menurunkan kualitas tulisannya dengan menyerang fisik saya. Saya tidak pernah melakukan body shaming terhadap dirinya. Saya juga menulis motivasi di media sosial sebagai ekspresi berbagi semangat, bukan untuk mencari uang. Banyak orang merasa terbantu oleh tulisan-tulisan tersebut, dan itu sudah cukup bagi saya.
Kelimabelas, STW juga tidak pantas merendahkan perjalanan karier saya dengan mengatakan bahwa penghidupan saya bergantung pada Pak Gories Mere. Saya memiliki jejaring luas dan usaha mandiri. Benar bahwa beliau berjasa besar, namun saya juga memiliki kerja keras dan pencapaian sendiri.
Keenambelas, STW tidak perlu mengklaim seolah hanya dirinya yang memperjuangkan rakyat kecil. Kami pun berjuang dengan cara kami sendiri, sering kali dalam diam. Kami tidak membutuhkan validasi. Kontribusi nyata akan berbicara pada waktunya.
Terakhir, STW silakan menulis sebagai bentuk perjuangan. Itu haknya. Namun akan jauh lebih bermartabat bila dilakukan dengan bahasa yang pantas, bijak, dan dewasa, terlebih sebagai seorang imam Katolik. Bahasa yang vulgar dan brutal justru akan memantul kembali kepada penulisnya sendiri.
Selamat menyongsong Natal.
Penulis adalah entrepreneur, Pendiri dan Direktur Utama PT Veritas Dharma Satya (VDS Group).


