NNB Indonesia — Menanggapi pernyataan Steph Tupeng Witin (STW) melalui opini-opininya di media lokal yang berulang kali menyebut adanya “mafia Waduk Lambo” dan “orang kuat Jakarta”, serta mengaitkannya dengan Komjen Pol (Purn) Drs. Gories Mere (GM), Valens Daki Soo (VDS) Staf Khusus GM, menyampaikan klarifikasi publik atas berbagai insinuasi, tuduhan, bahkan fitnah yang disebarkan oleh STW.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Klarifikasi ini diperlukan untuk menjaga ruang informasi tetap objektif dan tidak terdistorsi oleh narasi menyesatkan. VDs juga juga menyebut, bahwa dirinya berkepentingan menjaga nama baik GM sebagai tokoh nasional asal Flores yang telah lama mengabdi bagi bangsa dan negara.

GM tercatat sebagai orang Asia pertama yang menjadi President International Drug Enforcement, serta menerima sejumlah penghargaan internasional atas kiprahnya dalam pemberantasan terorisme, antara lain:

Pemerintah Federal Malaysia: Darjah Kebesaran Panglima Jasa Negara (PJN) dengan gelar Datuk.

Pemerintah Australia: The Order of Australia, The Honorary Member (AM) in the General Division of the Order of Australia atas persetujuan Ratu Elizabeth II.

Lebih dari 40 tahun GM mengabdi dalam berbagai jabatan strategis di Polri, dengan rekam jejak integritas dan dedikasi yang tidak diragukan. VDS menyebut, bahwa ia mengetahui hal ini dengan baik karena telah menjadi staf khususnya sejak tahun 2001.

1. Soal Tudingan “Orang Kuat Jakarta”

Dalam salah satu opininya, STW menulis bahwa dirinya tidak pernah menyebut nama, namun pada bagian lain ia menyinggung pihak yang disebutnya sebagai “orang kuat Jakarta”. Narasi itu secara tidak langsung diarahkan kepada GM.

Perlu ditegaskan bahwa keterlibatan GM dalam isu Waduk Lambo hanya dalam rangka membantu meredam penolakan warga, setelah pemerintah daerah saat itu gagal melakukan sosialisasi pembangunan.

Pada 2016, sebagai Staf Khusus Presiden, GM melihat bahwa dari tujuh pembangunan waduk di NTT, hanya Waduk Lambo yang mengalami penolakan keras. Penolakan bahkan eskalatif hingga membakar alat berat dan aksi protes ekstrem oleh warga.

Untuk meredakan situasi, GM bersama Jenderal Jacki Uly turun langsung ke lokasi yang saat itu bahkan sudah menolak kehadiran pemerintah daerah dan Polres Ngada. Setelah dialog, ditemukan bahwa warga belum mendapatkan sosialisasi memadai tentang manfaat dan dampak pembangunan waduk.

Sejak 2017 GM lebih dari 30 kali turun langsung ke lokasi untuk mengajak berbagai pihak melakukan sosialisasi. Beliau juga memfasilitasi perwakilan warga penolak untuk melihat langsung pembangunan bendungan Jatiluhur dan Jatigede, serta bertemu Menteri PUPR untuk memperoleh penjelasan resmi.

Dalam proses itu, Kasat Intel Polres Ngada saat itu, Iptu Serfolus Tegu, diminta membantu mendampingi warga sebagai putra daerah yang memahami adat Nagekeo. Dalam konteks ini, ST dinilai berhasil menjalankan tugasnya.

Saya sendiri mendampingi seluruh proses tersebut, termasuk saat tokoh-tokoh penolak diterbangkan ke Jakarta, difasilitasi dialog, dan menginap di Hotel Luwansa.

2. Tuduhan “Mafia Waduk Lambo” yang Harus Dibuktikan

Tuduhan STW tentang adanya “mafia” di proyek Waduk Lambo adalah tuduhan serius yang wajib dibuktikan secara hukum. Jika STW memiliki bukti kuat, silakan membawa masalah tersebut ke ranah pidana. Jangan menuduh tanpa dasar dengan dalih membela rakyat kecil.

GM selama ini banyak membantu masyarakat kecil secara konkret. Banyak bantuan sosial diberikan berkat jejaring luasnya, tanpa pernah dipublikasikan karena bukan karakternya untuk menceritakan kebaikan. Saya membuka hal ini semata untuk menjawab insinuasi STW.

Terkait urusan pribadi AKP Serfolus Tegu, seperti soal Kafe Coklat dan sebagainya, tidak memiliki kaitan apa pun dengan GM. Jika ada masalah di Waduk Lambo, itu adalah urusan otoritas pemerintah, bukan ditarik-tarik kepada GM.

STW perlu menjelaskan dasar tuduhannya menyebut GM sebagai “orang kuat Jakarta” yang menjadi beking mafia. GM sendiri menegaskan melalui pesan WA:
“Saya tidak tahu apa itu mafia waduk Lambo dan tidak ikut-ikutan dengan itu.”

3. Sindiran terhadap Bantuan Finansial

STW mengakui menerima bantuan finansial dari GM, namun tetap mempertanyakan motif GM dalam berbuat baik. Ini adalah sikap paradoksal. Ia menerima bantuan bulanan, namun curiga pada pemberinya.

STW bahkan masih menagih “jatah bulanan” pada 5 November 2025, tetapi kini mempertanyakan sumber dana tersebut. Sikap seperti ini menunjukkan ketidakjujuran moral.

GM adalah pensiunan jenderal dengan rekam karier panjang, jejaring luas, serta pernah menjadi komisaris di beberapa perusahaan. Itu adalah sumber pendapatannya. Menuduh tanpa dasar hanyalah bentuk prasangka buruk.

4. Mengatasnamakan Orang Kecil

Jika STW terus menyebut “orang kecil korban mafia waduk”, ia harus menyebut siapa saja orang-orang itu. Faktanya, warga terdampak telah menerima ganti rugi yang layak, sementara beberapa proses hukum masih berjalan. Tidak perlu memelintir narasi seolah ada korban besar yang tak tersentuh.

5. Info Provokatif

STW tinggal di Lembata namun menulis tentang Nagekeo tanpa investigasi langsung. Informasi yang ia peroleh kemungkinan besar berasal dari pihak-pihak tertentu yang sengaja menyuplai narasi provokatif demi kepentingan mereka sendiri. STW hanya menjadi corong.

Penutup

GM bukan sosok anti kritik. Ia terbiasa menghadapi kritik, bahkan ancaman nyata, termasuk menjadi target teroris JI pascabom Bali, pernah menerima “bom buku”, serta menjadi sasaran rencana pembunuhan.

Namun kritik yang benar harus berbasis fakta dan bukti, bukan fitnah. Saya mendesak STW menghentikan penyebaran opini yang menyesatkan dan mengembalikan semua pernyataannya pada koridor data serta akuntabilitas publik.

Akhir kata, kepada pembaca Kristiani, selamat memasuki masa Adventus. Semoga kita menyongsong Natal dengan semangat metanoia mengosongkan diri dari dosa, termasuk fitnah dan prasangka buruk.