“Keadilan yang Mati untuk Almarhum Prada Lucky Namo”
NNB Indonesia – Di tanah tempat merah putih berkibar, selalu ada harapan bahwa keadilan adalah milik semua anak bangsa, tanpa pengecualian. Namun bagi keluarga Alm. Prada Lucky Namo, harapan itu terasa seperti nyala lilin yang perlahan padam tertiup angin. Mereka berdiri, berjuang, dan bersuara tetapi suara itu seolah tenggelam di tengah hiruk pikuk institusi yang seharusnya hadir untuk melindungi, bukan menekan.
Di balik seragam para prajurit dan hiruk pikuk aparat yang tampak dalam gambar, ada sebuah ironi besar: seorang prajurit muda telah wafat dengan misteri yang belum terang, sementara keluarganya justru menghadapi tekanan, intimidasi, bahkan dugaan kriminalisasi. Keadilan, yang seharusnya hidup dan bersinar bagi mereka, justru terasa mati perlahan-lahan.
Pak Prabowo, ini bukan sekadar kasus. Ini adalah jeritan.
Jeritan seorang keluarga yang kehilangan putra, dan pada saat yang sama kehilangan kepercayaan pada mekanisme hukum yang seharusnya berdiri tegak.
Dalam negara yang Bapak pimpin sebagai Menteri Pertahanan dan Presiden terpilih, rakyat percaya bahwa prajurit sekecil apa pun pangkatnya adalah aset bangsa. Mereka berkorban tanpa syarat, bahkan nyawa sekalipun. Tetapi ketika seorang prajurit gugur dalam kondisi penuh tanda tanya, ketika keluarganya meminta keadilan dan yang datang adalah tekanan, maka di situlah keadilan mulai mati.
Keadilan tidak mati karena hukum tidak ada.
Keadilan mati ketika hukum sengaja tidak digunakan.
Keadilan mati ketika suara yang benar dipaksa diam.
Keadilan mati ketika keluarga korban harus melawan bukan hanya pelaku, tetapi juga sistem.
Keadilan mati ketika narasi rekayasa lebih cepat beredar daripada fakta.
Gambar yang ditampilkan bukan hanya dokumentasi. Ia adalah potret luka. Potret bagaimana aparat dan masyarakat berada dalam ketegangan yang seharusnya tidak pernah terjadi jika proses hukum berjalan jujur dan transparan.
Pak Prabowo, lihat kami di sini.
Lihat keluarga Prada Lucky Namo yang berdiri tanpa perlindungan.
Lihat ayah kandung almarhum yang justru menjadi sasaran kriminalisasi saat mencari kebenaran.
Lihat masyarakat yang menyaksikan bagaimana hukum bukan lagi tempat mencari keadilan, melainkan ruang penuh ketakutan.
Dalam situasi seperti ini, yang diperlukan hanyalah satu hal: keberanian politik untuk membongkar kebenaran apa adanya.
Tanpa menutup-nutupi.
Tanpa mengorbankan prajurit kecil demi nama besar.
Tanpa menjadikan keluarga korban sebagai musuh.
Jika keadilan untuk prajurit rendah saja tidak bisa ditegakkan, maka apa arti Merah Putih yang selalu kita banggakan?
Pak Prabowo, lihat kami di sini.
Kami tidak menuntut lebih.
Kami hanya meminta agar keadilan untuk Prada Lucky Namo tidak dikubur bersama jasadnya.
Sebab ketika negara gagal melindungi prajuritnya, maka negara telah gagal melindungi dirinya sendiri.


