NNB Indonesia — Himpunan Mahasiswa Program Studi Peternakan Sekolah Tinggi Pertanian Flores Bajawa (Stiper-FB) menggelar penutupan Masa Bimbingan (Mabim) dan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Aula Paroki Santo Hubertus Wakaseko, Kamis (12/02/2026). Kegiatan tersebut dihadiri 281 mahasiswa serta jajaran pimpinan kampus dan Pemerintah Daerah Kabupaten Nagekeo.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Wakil Ketua I Stiper-FB, David Januarius Djawapatty, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Kehadiran mahasiswa hari ini sebanyak 281 orang. Kegiatan ini merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Hari ini kita melaksanakan penutupan program Mabim dan PKM Prodi Peternakan yang berlangsung hingga Minggu saat penutupan,” ujarnya.

David menegaskan, mahasiswa tidak cukup hanya menguasai materi di ruang kelas. Mereka memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk mengimplementasikan ilmu di tengah masyarakat setelah menyelesaikan studi.

“Mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai materi di kelas, tetapi harus mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di tengah masyarakat. Sejak awal mereka dibentuk untuk mengenal kehidupan kampus, mulai dari perkuliahan, praktik, penelitian hingga pengabdian yang melibatkan dosen,” jelasnya.

Ia juga menyebutkan bahwa dalam hampir lima tahun perjalanan Stiper-FB, kini telah berjalan lima program studi, termasuk Peternakan dan Agroteknologi Pertanian. Kehadiran lima prodi tersebut diharapkan mampu menjawab kebutuhan dan harapan masyarakat Ngada dan NTT pada umumnya.

David berharap pelaksanaan Mabim dan PKM yang singkat ini mampu melahirkan rekomendasi strategis bagi pemerintah, khususnya dalam membangun kolaborasi antara Pemkab Nagekeo dan Stiper Flores Bajawa.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Nagekeo, Yohanes Siga  menekankan keterkaitan Program Studi Peternakan dengan program nasional Makanan Bergizi Gratis (MBG). Ia menilai sektor peternakan memiliki peran penting dalam mendukung penyediaan bahan pangan bergizi bagi masyarakat.

“Keterlibatan mahasiswa peternakan sangat relevan dengan program Makanan Bergizi Gratis karena menyangkut ketersediaan protein hewani yang berkualitas,” ujar Yan Siga.

Yan Siga juga mendorong agar kegiatan Mabim dan PKM tidak berhenti pada seremoni semata, tetapi benar-benar melahirkan program nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat, terutama dalam memperkuat ketahanan pangan daerah.

“Kami di DPRD tentu mendukung penuh kolaborasi antara kampus dan pemerintah daerah. Mahasiswa harus hadir sebagai solusi, bukan hanya belajar teori, tetapi ikut membangun sistem peternakan yang mampu menopang kebutuhan pangan lokal,” tegasnya.

Ia menambahkan, sinergi antara lembaga pendidikan dan pemerintah daerah perlu diperkuat agar sektor peternakan benar-benar mampu menopang kebutuhan pangan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Hal senada juga disampaikan Bupati Nagekeo melalui Asisten II Setda Nagekeo, Elias Tae. Ia menegaskan bahwa sektor pertanian dan peternakan merupakan sektor strategis. Setidaknya ada dua alasan utama, yakni sebagai penghasil bahan pangan dan sebagai sektor yang paling banyak diminati masyarakat.

“Pertanian dan peternakan adalah sektor strategis. Pertama, karena menghasilkan bahan pangan yang menjadi indikator kedaulatan bangsa dan rumah tangga. Kedua, sektor ini paling banyak diminati masyarakat Indonesia,” katanya.

Ia mengingatkan, ketiadaan bahan pangan akan menjadi persoalan besar bagi daerah maupun negara. Karena itu, generasi muda diminta tidak malu terjun langsung ke sektor pertanian dan peternakan meskipun telah menyandang gelar sarjana.

“Jangan malu menjadi sarjana lalu turun bertani dan beternak. Pemerintah terus meningkatkan dukungan teknologi, tetapi itu harus diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia,” tegasnya.

Elias juga memandang pilihan generasi muda mengambil jurusan peternakan, pertanian, dan perikanan sebagai langkah strategis, mengingat potensi lahan di wilayah Ngada dan Nagekeo bagian utara yang sangat menjanjikan.

Ia mengajak mahasiswa menyelesaikan studi tepat waktu dan segera masuk ke ruang aplikasi.

“Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Waktu studi hanya empat tahun dengan 160 SKS. Tuntaskan tepat waktu agar setelah itu bisa bergerak ke ruang aplikasi dan pengabdian nyata,” ungkapnya.