NNB Indonesia – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya siap melanjutkan negosiasi dengan Amerika Serikat, menyusul dorongan dari sejumlah negara sahabat di kawasan agar Teheran segera merespons proposal dialog yang disampaikan Presiden AS Donald Trump.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Melalui unggahan di media sosial X, Pezeshkian menginstruksikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi untuk meneruskan perundingan dengan Washington. Namun ia menegaskan, dialog hanya dapat berlangsung jika terbebas dari ancaman serta tuntutan yang dinilai tidak masuk akal.

Pernyataan tersebut muncul setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap Iran berpotensi memicu konflik berskala regional. Khamenei menegaskan, Amerika Serikat harus memahami bahwa perang yang dimulai terhadap Iran akan meluas ke kawasan.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman akan mencampuri urusan Iran dengan alasan isu nuklir dan tuduhan penindasan mematikan terhadap demonstran.

Pezeshkian menyebut, rencana negosiasi yang diklaim berada dalam kerangka kepentingan nasional Iran itu dijadwalkan berlangsung di Istanbul, Turki, pada 6 Februari mendatang.

Dalam wawancara dengan CNN, Araghchi menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan masih mungkin dicapai, meski ia mengakui telah kehilangan kepercayaan terhadap AS sebagai mitra negosiasi. Meski demikian, komunikasi melalui negara-negara sahabat di Timur Tengah dinilai telah memfasilitasi pembicaraan yang bermanfaat antara kedua pihak.

Araghchi menegaskan, sistem pertahanan rudal Iran tidak akan pernah menjadi bagian dari agenda perundingan. Ia juga kembali menekankan bahwa program nuklir Iran bersifat damai dan membantah tudingan AS terkait upaya pengembangan senjata nuklir.

Menurut Araghchi, hanya negosiasi yang adil dan jujur yang dapat membuka jalan menuju kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat.

Sementara itu, Trump menyatakan kepada wartawan di Gedung Putih bahwa kesepakatan dengan Iran akan menjadi sesuatu yang sangat luar biasa. Namun ia juga mengultimatum bahwa “hal-hal buruk” akan terjadi jika kesepakatan tersebut gagal dicapai.