NNB Indonesia – Iran hari ini tidak sedang menghadapi satu musuh tunggal, melainkan bertarung di banyak front sekaligus. Ancaman datang dari berbagai arah, dengan pola dan instrumen yang berbeda, namun mengarah pada tujuan serupa, yaitu melemahkan hingga meruntuhkan Republik Islam Iran. Tekanan itu dijalankan serentak, terkoordinasi, dan dengan intensitas penuh.
Pertama, Amerika Serikat mengerahkan perang ekonomi paling keras dalam sejarah modern. Sanksi di sektor keuangan, energi, perbankan, hingga teknologi dijadikan senjata untuk melumpuhkan sendi kehidupan masyarakat. Harapannya jelas, tekanan sosial memicu instabilitas internal dan berujung pada kejatuhan negara. Di saat yang sama, AS memanfaatkan forum internasional seperti PBB untuk mengisolasi Iran secara politik, sembari menggulirkan perang narasi guna merusak citra dan legitimasi Teheran di mata dunia.
Kedua, Israel bergerak melalui operasi intelijen, sabotase militer, serangan siber, dan perekrutan jaringan bayaran. Ini adalah perang senyap namun mematikan, dengan sasaran ilmuwan, infrastruktur strategis, serta stabilitas dalam negeri. Meski konfrontasi militer terbuka hanya berlangsung singkat, konflik dengan skala dan dimensi yang lebih luas terus berjalan, meninggalkan dampak yang jauh lebih destruktif.
Ketiga, kelompok teroris berafiliasi ISIS dan ekstremisme takfiri yang secara ironis didukung atau setidaknya dibiarkan oleh sebagian negara di kawasan. Kelompok kelompok ini dipelihara sebagai instrumen kekacauan untuk menguras energi keamanan Iran. Melalui mereka, serangan psikis berbasis isu sektarian digencarkan. Iran distigmatisasi, disesatkan, bahkan dikafirkan, dibungkus dalil teologis untuk membenarkan permusuhan dan pemusnahan. Inilah front yang paling menguras mental, karena berangkat dari konflik sesama umat Muslim.
Keempat, jaringan politik dan media yang berafiliasi dengan mantan rezim Shah yang terusir sejak 1979 kini berupaya menghidupkan kembali proyek Pahlavi dari luar negeri, dengan sokongan finansial dan politik asing. Kelompok MKO termasuk dalam poros ini, yang tanpa henti melancarkan aksi aksi teror berdarah untuk mengguncang stabilitas.
Inilah perjuangan multidimensi yang telah dihadapi Iran selama lebih dari empat dekade, dan hari ini memasuki fase paling sensitif dalam sejarahnya.


