NNB Idonesia – Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menegaskan bahwa status negaranya sebagai negara bersenjata nuklir tidak akan pernah berubah. Pernyataan itu disampaikan dalam pidatonya pada sidang parlemen, sekaligus menyebut Korea Selatan sebagai negara paling bermusuhan, yang kembali memicu ketegangan di Semenanjung Korea.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dalam sidang Majelis Rakyat Tertinggi ke-15, Kim menegaskan komitmen Pyongyang untuk terus memperkuat kemampuan pencegah nuklir. Korea Utara, kata dia, akan mempertahankan kesiapan respons nuklir yang cepat dan presisi guna menghadapi berbagai ancaman strategis terhadap keamanan nasional maupun kawasan.

Melalui pernyataan yang dikutip media pemerintah, Kim juga menegaskan bahwa Korea Utara akan terus memperkuat statusnya sebagai negara pemilik senjata nuklir serta siap menghancurkan setiap provokasi dari kekuatan musuh.

Kim turut mengeluarkan peringatan keras kepada Korea Selatan. Ia menegaskan bahwa setiap tindakan provokatif dari Seoul akan dibalas dengan konsekuensi tanpa ampun. Bahkan, Pyongyang secara resmi menyatakan tidak lagi mengakui Korea Selatan dan menyebutnya sebagai musuh utama.

Selain itu, Kim juga melontarkan kritik tajam terhadap Amerika Serikat yang dituduh sebagai pelaku terorisme negara dan agresi global. Pernyataan tersebut diduga berkaitan dengan konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Kim juga menegaskan bahwa negaranya siap memainkan peran lebih kuat dalam menghadapi Washington.

Tanpa menyebut nama secara langsung, Kim turut menyinggung Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia menyatakan bahwa pilihan antara konfrontasi atau koeksistensi damai berada di tangan pihak lawan, dan Korea Utara siap merespons segala kemungkinan.

Menanggapi pernyataan tersebut, pejabat Kementerian Unifikasi Korea Selatan menilai bahwa meskipun Kim tetap melontarkan kritik terhadap Washington, intensitasnya tidak sekeras sebelumnya. Pemerintah Seoul juga menegaskan komitmennya untuk terus memperbaiki hubungan dengan Korea Utara melalui jalur diplomasi.

Pernyataan terbaru dari Pyongyang ini menunjukkan bahwa dinamika geopolitik di kawasan Asia Timur masih diwarnai ketegangan, di tengah upaya sejumlah pihak untuk membuka jalur dialog dan meredakan konflik.