NNB Indonesia – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kekhawatiran serius di kalangan analis militer. Opsi invasi darat dinilai bukan hanya sulit secara teknis, tetapi juga berisiko menimbulkan korban besar di pihak militer Amerika.
Pakar militer sekaligus mantan kepala badan intelijen eksternal India, Research and Analysis Wing, A.S. Dulat, mengingatkan bahwa langkah mengirim pasukan darat ke Iran akan membawa konsekuensi yang sangat berat bagi Washington.
Menurut Dulat, perang darat selalu identik dengan pengorbanan besar. Ia menegaskan bahwa jika Amerika benar-benar masuk ke medan tempur di Iran, maka pemerintah harus siap menghadapi kenyataan pahit: banyak tentaranya berpotensi pulang dalam peti mati—situasi yang sangat sensitif bagi publik domestik.
Dalam wawancara bersama Salman Khurshid di program In Conversation RT India, Dulat menilai invasi langsung akan sulit diterima masyarakat Amerika karena dampak manusianya yang besar.
Selain itu, ia juga menyinggung kemungkinan keterlibatan badan intelijen seperti CIA dan Mossad dalam dinamika konflik. Dulat menduga adanya pertukaran informasi intelijen dalam operasi sensitif, termasuk spekulasi terkait nasib Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Dari sisi kesiapan, Iran dinilai tidak menghadapi situasi ini tanpa perencanaan matang. Kepemimpinan negara tersebut disebut telah menyiapkan skenario perang jangka panjang, termasuk struktur penerus jika terjadi krisis besar.
Dulat juga mengingatkan bahwa Washington kerap meremehkan daya tahan Teheran. Ia menyinggung pernyataan lama Henry Kissinger yang pernah memprediksi Iran bisa “lenyap”, namun hingga kini negara itu tetap bertahan.
Di level global, dukungan dari Rusia dan China terhadap Iran dinilai semakin memperumit situasi. Keterlibatan dua kekuatan besar ini berpotensi memperluas konflik jika eskalasi terus terjadi.
Sementara itu, upaya diplomatik masih menemui jalan buntu. Proposal perdamaian yang dikaitkan dengan Presiden Donald Trump dilaporkan tidak diterima oleh Iran, bahkan memunculkan tuntutan baru dari pihak Teheran.
Di tengah kebuntuan tersebut, Pakistan melalui Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan diplomat Zahid Hafeez Chaudhri menawarkan diri sebagai mediator, menekankan bahwa jalur diplomasi adalah satu-satunya cara realistis untuk meredakan konflik.
Dengan meningkatnya aktivitas militer dan minimnya titik temu diplomatik, masa depan hubungan Amerika Serikat dan Iran masih diliputi ketidakpastian. Banyak pihak kini menilai bahwa tanpa pendekatan damai, konflik ini berisiko berkembang menjadi perang besar dengan konsekuensi global yang jauh lebih luas.


