NNB Indonesia – Soami yang di beberapa daerah dikenal pula dengan nama kasoami atau sangkola merupakan makanan pokok masyarakat Wakatobi dan menjadi salah satu kuliner tradisional yang sangat melekat dengan identitas masyarakat di Sulawesi Tenggara, khususnya di Wakatobi, Muna, serta Kabupaten Buton. Hidangan ini berbahan dasar ubi kayu (singkong) yang diolah dengan proses pengukusan menggunakan uap panas. Dalam bahasa setempat, proses penguapan itu disebut soa, sehingga makanan tersebut dinamakan soami.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Masyarakat di berbagai wilayah menyebut makanan ini dengan nama yang berbeda. Warga Wakatobi umumnya menyebutnya soami, sementara masyarakat Buton dan Muna lebih familiar dengan nama kasoami. Di beberapa daerah lainnya, hidangan serupa dikenal dengan istilah sangkola. Meskipun penyebutannya beragam, bentuk dan penyajiannya cenderung sama, yakni menyerupai tumpeng kecil berbentuk kerucut dengan warna putih hingga kekuningan, tergantung jenis singkong yang digunakan.

Lebih dari sekadar makanan pokok, soami memiliki nilai simbolik bagi masyarakat setempat. Warga Wakatobi memaknai soami sebagai simbol persaudaraan, keakraban, dan kebersamaan. Karena itu, makanan tradisional ini sering dihidangkan pada berbagai acara besar, mulai dari hajatan keluarga, syukuran adat, hingga momen penyambutan kerabat yang pulang ke kampung halaman. Hingga saat ini, soami tetap menjadi makanan harian masyarakat pesisir Sulawesi Tenggara dan umumnya disajikan bersama lauk khas seperti ikan parende, sejenis sup ikan bercita rasa segar dan pedas ringan.

Popularitas kasoami bahkan pernah menjadi sorotan nasional. Pada Kendari Food Festival 2018, Komunitas Kuliner Kendari (Tripelka) berhasil menyajikan kasoami raksasa yang kemudian tercatat dalam Rekor MURI sebagai kasoami tertinggi di Indonesia. Hidangan monumental tersebut memiliki tinggi mencapai 250 cm dengan diameter 180 cm, dibuat dari 1,2 ton tepung tapioka, dan dimasak oleh 40 juru masak dibantu oleh 20 asisten selama lebih dari 12 jam. Pencapaian ini tidak hanya memperkenalkan kuliner khas Sulawesi Tenggara kepada khalayak luas, tetapi juga menegaskan bahwa soami atau kasoami merupakan bagian penting dari identitas budaya masyarakat Wakatobi dan sekitarnya.