Scroll Untuk Lanjut Membaca

Oleh: Jacob Ereste

NNB Indonesia – Dalam menyambut kehidupan baru, tema Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia menjadi pokok pembahasan Yudi Latief pada 26 Januari 2026 di Wisma Sangha Theravada Indonesia, Jalan Margasatwa Nomor 9, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Kegiatan ini terselenggara atas undangan khusus Bhikkhu Dhammasubho Mahathera dan dihadiri sejumlah tokoh nasional.

Hadir dalam acara tersebut antara lain Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. KH. Nazaruddin Umar, mantan Menteri Agama Lukman Syaifuddin, serta Wali Spiritual Nusantara Sri Eko Sriyanto Galgendu dari Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia. Turut hadir pula para pemuka agama dan intelektual dari berbagai latar belakang.

Bhikkhu Dhammasubho Mahathera menjelaskan bahwa rangkaian Puja Mantra dan pembacaan paritta berlangsung selama 24 jam tanpa henti. Durasi ini melampaui persembahan doa untuk 79 tokoh bangsa yang sebelumnya dilakukan Sri Eko Sriyanto Galgendu selama 20 jam nonstop pada 2 hingga 3 Agustus 2025 di Wisma Antara, Jakarta Pusat.

Acara ini turut melibatkan Keluarga Besar Wisma Sangha Theravada Indonesia, Binmas Agama Buddha, Megabhudi, Astinda, Wandani dan Patria, Puja Bali, Institut Nagarjuna, serta sejumlah sponsor yang mendukung suksesnya kegiatan tersebut.

Suasana acara berlangsung khusyuk dan penuh khidmat, disertai pengukuhan Rumah Moderasi Beragama oleh Wakil Menteri Agama Republik Indonesia. Kegiatan ditutup dengan pementasan sendratari Gambyong dan makan siang bersama dengan hidangan yang terjamin kehalalannya.

Dalam sambutannya, Bhikkhu Dhammasubho Mahathera tidak menyebutkan satu per satu nama hadirin, dengan alasan seluruh peserta sangat dihormati sebagai sahabat rohaniawan. Dengan gaya santai dan humoris, ia menyapa para undangan yang memenuhi aula Wisma Sangha Theravada Indonesia.

Ia juga menguraikan makna selamatan tanpa hewan, dengan sajian makanan yang seluruhnya berasal dari hasil bumi. Terdapat 108 jenis tetumbuhan, buah buahan, dan biji bijian tanpa melibatkan makhluk hidup lain. Menurutnya, kemuliaan manusia terletak pada kemampuannya menempatkan harga hidup di atas harga diri dan harga mati.

Puja mantra, lanjutnya, merupakan bentuk penghormatan melalui kata kata indah dan pembacaan Dhamma Sutta. Oleh karena itu, kemajuan spiritual harus terus ditingkatkan, sebab secara material bangsa Indonesia relatif belum sepenuhnya sejahtera, terutama di wilayah pedesaan.

Terkait moderasi beragama, Bhikkhu Dhammasubho Mahathera menegaskan bahwa seluruh unsur agama dan kepercayaan, termasuk kelompok Gus Durian dan Cak Nurian, telah menyepakati komitmen bersama yang tertuang dalam plakat di Wisma Sangha Theravada Indonesia.

Setelah penandatanganan Rumah Intelek Religius oleh Menteri Agama, Yudi Latief menyampaikan orasinya dengan mengangkat tema Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia dan Apa Jadinya Indonesia Tanpa Pancasila. Ia membuka tausiah dengan salam Pancasila dan menegaskan bahwa Indonesia yang berada di wilayah tropis di tengah bumi memiliki berkah yang tak bertepi.

Yudi Latief juga menegaskan bahwa sepanjang sejarah, Indonesia tidak pernah dijajah sebagai sebuah bangsa. Yang dijajah adalah kerajaan kerajaan yang terpecah belah dan tidak bersatu. Karena itu, para pendiri bangsa sepakat membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai rumah bersama untuk memerdekakan seluruh suku bangsa Nusantara dalam satu negara berbentuk republik seperti saat ini.