NNB Indonesia — Anggota DPRD Nagekeo dari Fraksi PKS, Asykari Syamsudin, melaksanakan agenda reses di Dusun I Desa Marapokot, Sabtu (06/12/2025) malam. Sedikitnya 130 warga menghadiri kegiatan tersebut untuk menyampaikan langsung aspirasi, harapan, serta keluhan yang selama ini menjadi beban masyarakat pesisir, terutama terkait kebutuhan dasar dan sarana penunjang mata pencaharian nelayan.
Dalam dialog terbuka, sejumlah warga mengemukakan berbagai usulan yang berkaitan dengan peningkatan produktivitas nelayan.
Suwadi Sulaiman mewakili kelompok nelayan menyampaikan kebutuhan mendesak terkait bantuan mesin perahu diesel 30 PK, mengingat banyak mesin yang digunakan saat ini sudah tidak layak dan kerap mengalami kerusakan.
“Kami berharap bantuan mesin perahu 30 PK. Mesin yang kami pakai sekarang kondisinya sudah tidak memadai. Dengan mesin baru, jangkauan melaut bisa lebih jauh dan hasil tangkapan bisa meningkat,” ujar Suwadi.
Aspirasi serupa juga muncul terkait kondisi pascapenangkapan ikan. Arif Randurang menyoroti perlunya sarana penyimpanan hasil laut berupa coolbox, agar ikan tetap segar sebelum dibawa pulang maupun dijual di pasar lokal.
Arif menjelaskan bahwa selama ini banyak nelayan mengalami kerugian karena ikan cepat rusak akibat tidak adanya fasilitas penyimpanan standar. Kehadiran coolbox dianggap mampu menjaga kualitas hasil tangkapan serta meningkatkan daya jual di pasar.
“Kami membutuhkan coolbox agar hasil tangkapan tetap segar. Ini penting sekali bagi nelayan Marapokot, terutama yang melaut jauh dan pulang lambat,” kata Arif menambahkan.

Keluhan Terbesar: Krisis Air Bersih yang Menahun
Selain persoalan nelayan, isu yang paling mengemuka dalam reses tersebut adalah krisis air bersih yang sudah puluhan tahun menghantui warga Dusun I Desa Marapokot.
Ahmad Serang, pembina politik sekaligus anggota BPD Desa Marapokot, menyampaikan bahwa kebutuhan air bersih menjadi beban ekonomi yang berat bagi warga. Setiap bulan, warga harus mengeluarkan uang hingga jutaan rupiah hanya untuk membeli air dari mobil tangki.
“Setiap bulan kami keluar biaya besar hanya untuk air. Harga satu tangki 2.000 liter mencapai Rp50.000, dan kebutuhan warga sangat banyak. Ini sudah berlangsung lama,” ungkap Ahmad.
Ia berharap DPRD melalui Asykari dapat memperjuangkan solusi jangka panjang, mulai dari pembangunan jaringan distribusi air, pipanisasi, hingga program air bersih dari pemerintah kabupaten.
“Kami sudah terlalu lama bergantung pada air tangki. Kami butuh solusi permanen, bukan lagi bantuan sementara,” ujarnya tegas.

Respons dan Komitmen Asykari Syamsudin
Menanggapi berbagai usulan tersebut, Asykari menyampaikan bahwa seluruh aspirasi masyarakat akan ia tindaklanjuti melalui mekanisme resmi di DPRD dan koordinasi lintas OPD.
Ia menegaskan bahwa persoalan air bersih di Marapokot akan menjadi prioritas utama dalam pembahasan dengan pemerintah daerah.
“Aspirasi ini akan saya bawa dan perjuangkan. Air bersih adalah kebutuhan mendasar, dan saya akan mendorong agar pemerintah daerah memberikan perhatian lebih besar untuk Marapokot,” ujar Asykari.
Terkait usulan bantuan coolbox dan mesin perahu, Asykari menyatakan akan mengupayakan melalui program pemberdayaan ekonomi nelayan baik dari dinas teknis maupun alokasi pokok-pokok pikiran (pokir).
“Usulan peralatan nelayan seperti mesin 30 PK dan coolbox akan kami sesuaikan dengan program yang ada. Saya pastikan aspirasi warga tidak diabaikan,” jelasnya.


